Samaun Bakri Wartawan Muhammadiyah Yang Juga Mantan Wakil Residen Banten, Gugur Dalam Tugas Rahasia Negara

- Senin, 30 Januari 2023 | 23:20 WIB
Samaun Bakri. (Laman Muhammadiyah)
Samaun Bakri. (Laman Muhammadiyah)

 

REPORTASE BANTEN — Tahun 1947-1948 adalah masa krusial bagi Indonesia yang baru saja mendeklarasikan kemerdekaan. Selain harus menghadapi Agresi Militer Belanda yang membuat ibukota Indonesia harus diungsikan ke Yogyakarta.

Indonesia  sebagai negara juga belum memiliki infrastruktur pertahanan yang memadai. Keadaan ini menuntut pemerintah melakukan sejumlah inisiatif.

Di tengah keadaan genting tersebut, Presiden Soekarno memberi tugas rahasia kepada seorang tokoh Muhammadiyah untuk membeli sebuah pesawat di India. Tokoh itu bernama Samaun Bakri.

Baca Juga: Resep Banana Roll Cake Rp,1.500, Ide Jualan Kantin Yang Laris Manis Dan Banjir Orderan.

Samaun Bakri, Pemuda Anti Kolonialisme

Samaun Bakri adalah putra kelahiran Nagari Kurai Taji, Nan Sabaris, Padang Pariaman, Sumatra Barat, 28 April 1908. Kakeknya dari garis ayah adalah Bagindo Tan Labiah, seorang dubalang Tuanku Imam Bonjol.

Sikap anti kolonialisme Samaun muncul saat dirinya berusia 18 tahun. Kala itu dia bekerja di kantor Residen Belanda.

Dirinya Kerap menyaksikan kesewenang-wenangan Belanda terhadap pribumi, membuat sentimen anti penjajahannya lahir hingga dia banyak terlibat dalam aktivitas dengan pergerakan politik seperti Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Islam Indonesia (PII), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dan Persatuan Muslim Indonesia (Permi), Partai Indonesia Raya (PARINDRA).

Baca Juga: Keren, Universitas Muhammadiyah Palangka Raya Pada Tahun 2024 Akan Buka Fakultas Kedokteran

Seorang Wartawan Kritis

Perjuangan Samaun melalui media massa dimulai dengan menjadi wartawan surat kabar Persamaan pada tahun 1929.

Lewat media massa, dia kerap mengkritik kebijakan pemerintah kolonial sehingga membuat kontrolir Pariaman, Spits, marah dan mengusir Samaun dari tanah kelahirannya. Samaun lantas pindah ke Bengkulu bersama istri dan anaknya.

Di Bengkulu, Samaun menjadi redaksi di Koran Sasaran. Di surat kabar itu, dia kerap mengkritik petinggi adat bengkulu seperti Demang, Asisten Demang, Pasirah Dan Depati yang menyusahkan rakyat dengan menjadi kaki tangan pemerintah Hindia Belanda.

Pemerintah akhirnya mengeluarkan persdelict atau surat peringatan kepada Surat Kabar Sasaran.

Halaman:

Editor: Adityawarman

Sumber: muhammadiyah.or.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X